WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

18 Sep 2010

Budaya Papua Masih Dijadikan Bisnis

Sabtu, 18 September 2010 | 07:46 WIB
Josephus Primus
Ilustrasi seni membuat patung Suku Asmat di Papua.
JAYAPURA, KOMPAS.com — Ornamen budaya masyarakat adat Papua hingga saat ini masih dijadikan bisnis secara bebas, kata seniman Papua, Yakobus Degei, di Jayapura, Jumat.
Hal itu disampaikan Yakobus terkait dengan banyaknya unsur budaya asli Papua yang mulai diimitasi hingga penempatannya kurang pas.
"Ini justru menjadikan orang Papua tidak beradab karena bisa kehilangan nilai budayanya," kata Yakobus menegaskan.
Pria kelahiran Nabire, Papua, ini menambahkan bahwa ornamen-ornamen budaya yang sebenarnya tidak ditempatkan di luar bangunan atau di teras ruang tamu.
Dia meminta pemerintah memisahkan budaya dengan proyek bisnis budaya sehingga tidak menjadi satu.
Di Papua, kata dia, penempatan ornamen asli Papua pada sebuah bangunan kerap tidak mendapat izin dari pemiliknya. Hal ini membuat banyak pemilik protes, mereka merasa dimatikan dan budayanya tidak dihargai.
Yakobus Degei mencontohkan ornamen Asmat banyak yang dipajang di tempat umum. "Itu sebenarnya tidak pantas," katanya menegaskan.
Ia berharap ke depan ada penghargaan pula bagi para seniman budaya, di samping setiap proyek atau bisnis budaya Papua dapat dihilangkan agar nilai-nilai kultur masyarakat adat setempat tetap terjaga.
"Mari kita jaga bersama dan memberantas aktivitas bisnis yang justru mematikan nilai seni budaya lokal sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia," katanya menandaskan.
Yakobus Degei sendiri merupakan seniman otodidak yang melukis pada kulit kayu hingga menggunakan kanvas.
Pada tahun 2003, dia menjadi duta seniman Papua dan berkunjung ke Sekolah Tinggi Seni Jakarta IKJ dan Seni Ancol. Kemudian pada tahun 2004 mengikuti pameran lukisan di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar