WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

22 Sep 2010

Aksi Tuntut Kedaulatan Papua Barat

MANOKWARI -- Tanah Papua tak pernah "sepi".  Keinginan untuk lepas dari NKRI terus terjadi. Kali ini, ratusan massa West Papua Nation Autority (WPNA), Rabu (22/9) pagi hingga siang menggelar aksi unjuk rasa menuntut kedaulatan (kemerdekaan) bagi Papua Barat. Hanya saja, rencana mereka untuk menyampaikan aspirasi ke DPRD gagal terlaksana karena tak diizinkan aparat kepolisian. 

Lantaran tak mendapat izin itu, aksi hanya berupa orasi mimbar bebas serta ibadah di lapangan Penerangan di Jalan Percetakan Sanggeng. Massa terkonsentrasi pada dua lokasi, di gedung DAP (Dewan Adat Papua) di Jalan Pahlawan,Sanggeng dan di kompleks Amban. Massa di DAP mulai berkumpul sejak pukul 09.00 WIT,begitu juga di Amban,massa umumnya mahasiswa.   

Sebenarnya, polisi juga berupaya untuk mecegah aksi di jalan itu. Kepolisian melarang massa menggelar long march untuk menyampaikan aspirasi ke kantor DPRD Provinsi Papua Barat. Dipihak lain, penanggung jawab kegiatan, Terianus Yoku menjamin aksi ini berjalan damai, hanya penyampaikan aspirasi bahwa permasalahan Papua seperti pelanggaran HAM dan persoalan Pepera telah menjadi agenda sidang PBB. Sempat terjadi perdebatan antara polisi dengan korlap aksi.

Sekitar pukul 10.00 WIT,massa di antarannya Fedinanda Ibo dan tokoh-tokoh lainnya beranjak dari halaman kantor DAP. Namun baru berjalan sekitar 150 meter,Kapolres AKBP Bambang Ricky didampingi Wakolres serta puluhan anggota polisi mencoba menghadang massa. Sekitar 50 meter berjaga-jaga puluhan pasukan Dalmas (pengendali massa) serta mobil water cannon.

Polisi berupaya membubarkan massa. Lewat pengeras suara, massa sempat diingatkan agar tidak menggelar longmarch demi menjaga keamanan. Di tengah jalan, depan TMP (Taman Makam Pahlawan) sempat terjadi dialog antara Kapolres dengan penanggung jawab aksi Terianus Yoku dan Ny Ferdinanda Ibo.  Di hadapan massa,Kapolres menyatakan,aksi ini belum mengantongi izin.Sedangkan Terianus Yoku menuturkan,aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kedaulatan Papua yang sudah menjadi agenda PBB. Ia bertanggung jawab atas kegiatan dan menjamin aman.

Meski demikian, aksi unjuk rasa ini sempat mengganggu aktifitas di pasar Sanggeng dan pasar Wosi. Para pedagang memilih menutup kiosnya karena kuatir terjadi hal tak dikehendaki. Beberapa toko di juga ikut tutup. Termasuk juga,ada sekolah yang memulangkan siswanya lebih awal.

Negosiasi pun terjadi. Latas disepakati, aksi hanya dilakukan di lapangan Penerangan di Jalan Percetakan Sanggeng. Dengan catatan,hanya digelar ibadah dan mimbar bebas.  Namun, massa terus bertambah, lantaran ratusan massa di Amban hendak menggelar longmarch dan bergabung dengan massa yang sudah ada di Sanggeng. Namun,aksi longmarch kembali dihalau aparat kepolisian.

Kapolres kembali bernegosiasi dengan koordinator aksi. Sempat terjadi adu argumen. Hingga massa ini bersedia difasilitasi,menumpang pada 8 truck yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan,massa meneriakkan pekik ‘’Papua Merdeka. Kapolres dan personel Dalmas ikut mengawal.  Akhirnya massa dari Amban berkumpul dengan massa lainnya di lapangan Penerangan di Jalan Percetakan Sanggeng sekitar pukul 12.00 WIT. Perkumpulnya dua massa ini makin menambah semangat,meski di bawah terik matahari.

Terianus Yoku,selaku penanggung jawab politik Papua Merdeka sekaligus Presiden National Konggres Otoritas Papua Merdeka dihadapan massa menyatakan,persoalan Papua telah masuk ke dalam agenda PBB. Pada sidang PPB, 22 September,dua perwakilan dari Papua ikut sehingga perlu mendapat dukungan dari segenap komponen rakyat Papua. ‘’Persoalan ini sedang di pantau dunia internasional.Rakyat Papua menuntut kemerdekaan dan kedaulatan,’’ tegasnya. Dalam orasinya Yoku menyinggung pelanggaran HAM yang dilakukan aparat keamanan. Yang terkini,tewasnya, Naftali Kwan pada insiden Manokwari berdarah,15 September lalu. Ia juga menyoroti Pepera yang dinilai cacat.

Kapolres,Bambang Ricky kepada wartawan menyatakan,selama aksi situasi kamtibmas dalam keadaan kondusif. Jajarannya menghalau massa untuk tidak menggelar longmarch guna menghindari kemungkinan tak diinginkan. ‘’Kita lakukan langkah-langkah persuasif,dan mereka setuju hanya menggelar orasi dan ibadah,’’ ujarnya.

Untuk mengamankan aksi ini,Polres menurunkan ratusan anggotanya,termasuk personel Dalmas dan mobil water cannon. Tak terlihat anggota Brimob. Mereka hanya bersiaga di Mako. (lm/sam/jpnn)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar