WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

11 Jan 2009

OPM Beraksi di Puncak Jaya

Rampas 4 Senjata, Lukai Seorang Istri Polisi

(Enembe Minta Masyarakat Tetap Tenang)
JAYAPURA-Prediksi Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto pada jumpa pers akhir tahun 2008 bahwa yang perlu diwaspadai di tahun 2009 adalah aksi-aksi separatis bersenjata, mulai jadi kenyataan.
Di awal bulan Januari 2009 ini, kelompok separatis bersenjata atau gerombolan OPM (Organisasi Papua Merdeka) dilaporkan berulah. Mereka menyerang Pos Polisi Tingginambut, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, Kamis (8/1) sekitar pukul 21.00 Wit kemarin.
Akibat penyerangan yang berlangsung cepat itu, 4 senjata polisi yang bertugas di Pos Pol Tingginambut tersebut dirampas dan dibawa kabur pelaku. Tidak hanya itu, Ivana Helan (21) seorang istri anggota Pos Pol bernama Bripda Yan Pieter Aer mengalami luka tikam di dada sebelah kiri hingga tembus ke belakang. Kini korban kritis di RS Bhayangkara, Kotaraja, Abepura.
Bagaimana koronoligis kejadianya? Kapolres Puncak Jaya, AKBP Chris Rihulay, SSt.Mk melalui Wakapolres Puncak Jaya, Kompol Drs. Marselis S yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos di Puncak Jaya mengatakan, pada pukul 18.00 WIT sore aktifitas di pos polisi seperti biasanya, yaitu banyak masyarakat Tingginambut menonton televisi. Kemudian anggota yang berjaga saat itu hanya 2 orang (dari 6 anggota) sedang makan malam di dapur.
Tidak selang beberapa jam beberapa masyarakat (berkisar 20 orang lebih) masuk ke dalam pos dengan membawa senjata, berupa parang dan kampak langsung mengunci pintu dapur sehingga 2 anggota pos yang sementara makan di dapur tidak bisa keluar.
Setelah masuk kedalam pos, gerombolan tersebut langsung masuk kedalam kamar mencari senjata yang disimpan. Alhasil gerombolan berhasil mengambil 3 pucuk senjata di dalam kamar pertama, kemudian menemukan 1 pucuk senjata lagi di dalam kamar lain.
Naas bagi istri Bripda Yan P Aer yang saat itu berada di dalam salah satu kamar dan sempat melakukan perlawanan, sehingga pelaku langsung menikam korban tepat di dada kiri hingga tembus kebelakang.
Setelah menikam korban dan tergeletak di kamar, lanjut dia, pelaku langsung meninggalkan pos polisi denga membawa lari 4 pucuk senjata. Kemudian suami korban melarikan korban ke mess guru kontrak guna mendapatkan pertolongan. Setelah berlindung dan mendapatkan perawatan di mess guru kontrak, keesokan harinya, Jumat (9/1) korban langsung dilarikan ke RSUD Mulia guna mendapatkan perawatan lebih lanjut dan langsung dirujuk ke RS Bhayangkara Jayapura.
Menurut keterangan yang didapat, tambah Kapolres, kejadian ini diduga dilakukan gerombolan Dekiles Tabuni, Argolek Tabuni, Onggomanik Telenggen dan Warinus Telenggen. Namun demikian, pihaknya tetap akan melakukan penyelidikan dan olah TKP guna mendapatkan keterangan lebih lanjut, baik itu dari saksi yang melihat kejadian.
Sementara itu, salah seorang guru kontrak, Sri Sudarti yang saat itu berada di mess menuturkan, malam itu hujan turun deras sekali, kemudian pihaknya mendengarkan bunyi senjata berulang kali sehingga membuat semua orang yang berada di mess guru ketakutan dan bersembunyi.
Pihaknya tidak berani keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Mereka baru berani keluar setelah ada yang mengetuk pintu mess sambil memanggil dari luar.
Mendengar ada yang memanggil, pihaknya langsung membuka pintu mess dan akhirnya melihat Bripda Yan P Aer membawa korban (istrinya) yang sudah berlumuran darah. Pihaknya langsung memberikan pertolongan yang apa adanya yaitu memberikan obat merah, namun darah yang dikeluarkan cukup banyak. Hingga keesokan harinya, pihaknya bersama Yan P Aer dan korban akhirnya membawa ke RSUD Mulia.
"Kami sangat ketakutan mendengar suara tembakan berulang kali dari luar dan kami tiarap kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk pintu membuat kami tambah takut dan ternyata kami melihat istri Yan P Aer mengeluarkan darah, sehingga kami sempat mengobatinya dengan obat merah,"katanya.
Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi membenarkan adanya penyerangan Pos Pol Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya tersebut.
"Kejadiannya, malam pukul 21.00 wit dan baru dilaporkan Jumat (9/1) pagi pukul 07.30 wit oleh masyarakat ke pos Brimob yang diteruskan ke Mapolres Puncak Jaya," kata Kapolda Bagus Ekodanto usai Coffee Morning bersama dengan unsure Muspida dan KPU serta Panwaslu, kemarin.
Kapolda mengakui adanya 4 pucuk senjata, yakni 3 pucuk SS1 V1 dan 1 pucuk 1 SS1 V2 bermagasen dengan peluru sebanyak 61 butir telah dibawa kabur pelaku.
Bagus Ekodanto mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan Pos Pol Tingginambut tersebut dari Polres Puncak Jaya dan Brimob yang telah tiba di TKP sekitar pukul 08.30 wit, dan langsung melakukan olah TKP.
Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pangdam XVII/Cenderawasih untuk membackup dalam pengejaran pelaku penyerangan pos pol tersebut. "Kami juga mengumpulkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda setempat dan mereka mendukung kami untuk mengungkap kasus ini," ujarnya.
Kapolda meminta kepada para pelaku penyerangan untuk segera mengembalikan 4 pucuk senjata tersebut, namun Kapolda menegaskan akan tetap memproses hukum pelaku penyerangan dan penikaman anggota Bhayangkari tersebut.
Yang jelas, Kapolda menambahkan pelaku penyerangan ini sudah diketahui identitasnya. "Pelakunya sudah kami ketahui berinisial AT, dari kelompoknya AN. Hal ini berdasarkan informasi dari masyarakat setempat yang melihat pelakunya," imbuhnya.
Sekedar diketahui, sampai berita ini diturunkan situasi keamanan di Tingginambut aman dan kondusif. Hanya saja arus kendaraan yang melintas dari Wamena menuju Mulia sempat ditutup dan menunggu di Polsek Ilu, namun hingga sore dan malam kembali normal baik aktivitas masyarakat kembali normal, kemudian pengamanan telah diback up oleh Brimobda Papua BKO Polres Puncak Jaya guna melaksanakan patroli.

Bupati Enembe Minta Masyarakat
Tingginambut Tetap Tenang
SEMENTARA itu Bupati Puncak Jaya Bupati Lukas Enembe, S.IP. Enembe sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, memang hampir seluruh institusi keamanan, baik Polda Papua maupun Kodam XVII/Cenderawasih mengakui bahwa Puncak Jaya, termasuk daerah merah (daerah rawan) dan memang itu kondisi rill yang ada disini.
"Dengan demikian, ada aktifitas saudara-saudara kita yang berseberangan dan itu jelas dari tahun ke tahun ada,"katanya.
Dikatakan, dari tahun ke tahun pihaknya telah melakukan berbagai pendekatan, baik lewat pemerintah maupun kepolisian dengan maksud agar apa yang mereka perjuangkan selama ini tidak benar. Namun stigma tentang perjuangan itu bukan suatu yang baru dan sudah menjadi darah daging bagi mereka, sehingga memang membutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka bahwa pemerintah telah bekerja sehingga bisa sadar dan bergabung."Keberadaan saudara-saudara kita sudah bertahun-tahun ada dan hampir semua institusi keamanan mengakuinya, namun kami tetap melakukan pendekatan-pendekatan sehingga apa yang mereka perjuangkan selama ini sia-sia,"ungkapnya kepada Cenderawasih Pos disela-sela mengunjungi korban di RSUD Mulia
Menurut Bupati, kejadian ini memang sudah diprediksikan Kapolda Papua saat akan memasuki tahun baru (2009) dan ternyata benar-benar terjadi, sehingga pihaknya berpikir bahwa memang daerah ini dari dulu sudah seperti ini. Disinggung soal rencana penambahan pasukan keamanan guna pengamanan lebih lanjut di daerah tersebut, Bupati menjelaskan, mungkin kita akan lakukan koordinasi dan pendekatan melalui pihak kepolisian, sehingga untuk sementara pendekaran yang akan kita ambil tidak perlu mendatangkan pasukan.
Kemudian, kata Bupati, akan serahkan sepenuhnya kepada pimpinan Polri dan TNI guna mengambil langkah yang terbaik, karena kedua pimpinan keamanan tersebut mempunyai prosedur dan aturan. Namun demikian, pihaknya selaku pemerintah hanya memback up saja. Lebih khusus lagi, Bupati menghimbau kepada masyarakat di Tingginambut agar tetap tenang dan tetap melaksanakan aktifitas seperti biasanya.
"Kita tidak akan menambah pasukan keamanan, karena kita akan tetap melakukan pendekatan kepada saudara kita yang berseberangan. Untuk itu, saya menghimbau kepada masyarakat supaya tetap tenang dan melakukan aktifitasnya seperti biasa,"tandasnya.
Di tempat terpisah, Ketua Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Papua, Pdt. Lipiyus Biniluk meminta seluruh masyarakat di Puncak Jaya agar tetap tenang dan beraktifitas sebagaimana biasanya.
"Masyarakat tetap aktifitas seperti biasa. Pihak keamanan akan mencari siapa pelakunya. Saya percaya Tuhan akan membongkar siapa pelaku utama dalam masalah ini, karena korbannya seorang ibu yang sebenarnya tidak harus terjadi," tuturnya.
Pdt. Lipiyus menyatakan bahwa pihaknya mendukung kebijakan Kapolda Papua, dimana Kapolda meminta tidak boleh ada tindakan-tindakan anarkis dari pihak siapapun.
"Kami menghimbau, pihak yang mengambil senjata agar segera mengembalikan ke pemiliknya. Semua masyarakat jangan panik, semua tetap tinggal di tempat dan beraktifitas seperti biasa," tandasnya lagi.
Kepada pihak keamanan, pihaknya berharap jangan mengambil tindakan-tindakan sendiri, namun ikuti komando Kapolda dan bekerja sesuai peraturan yang ada.
"Mohon jangan ada yang memprovokasi. Kapolda juga telah bicara dengan saya dan beliau mengatakan tidak boleh ada penambahan pasukan. Itu saya setuju. Pihak kepolisian saya pikir mereka mampu untuk melakukan tugas pengamanan itu. Jadi kami dari pihak gereja akan membantu proses kedepan di sana," tegasnya yang juga sebagai Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Provinsi Papua. (nal/bat/fud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar