WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

29 Jun 2010

"OPM Tidak Tuntut Kesejahteraan, Tapi Kemerdekaan"

MULIA - Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe, membenarkan perjuangan TMP/OPM, didaerah Puncak Jaya murni menuntut kemerdekaan Papua Barat bukan lagi tentang kesejahteraan. This Source
 
Ini terbukti dengan beberapa kali penawaran yang dilakukan oleh Pemda setempat, seperti pimpinan TPM/OPM tertinggi di wilayah itu ditawari menjadi Kepala Distrik (Camat) setempat, dibangunkan infrastruktur, perumahan sehat dan sebagainya tetapi kelompok idiologi bersebrangan ini menolak.
 “Kami sudah sering tawarkan untuk menuju pada kesejahteraan, tetapi justru dari mereka yang tidak menghendaki adanya kesejahteraan. Kami bangun jembatan mereka putus dengan sengaja entah apa maksudnya, kami bangun sekolah untuk pendidikan layak anak-anak mereka, tapi dibakar, kami tawarkan pekerjaan sebagai PNS tapi lagi-lagi kami ditolak, mereka bilang hanya menginginkan kemerdekaan Papua Barat,” kata Enembe kepada wartawan di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (30/6/2010).
 Enembe, meyakini perjuangan untuk menuju kemerdekaan Papua Barat itu akan tetap ada tetapi, pemda setempat juga terus berupaya meranggkul mereka. “Kami berharap mereka sadar dan bisa bergabung membangun wilayah ini bersama-sama,” lanjut dia.
 Ia juga membeberkan beberapa dokumen penting milik TPM/OPM yang dilayangkan kepadanya selaku pemimpin kabupaten Puncak Jaya, seperti pembentukan kabinet organisasi TPM/OPM yang dipimpin Anthon Neco Ober Tabuni, yang ditandai dengan cap jempol berdarah oleh 43 orang anggota TPM/OPM, salah satu dokumen tersebut ditujukan kepada Presiden SBY untuk pengajuan pemisahan diri dari NKRI.
 
Enembe juga membenarkan bahwa perjuangan TPM/OPM sudah mengarah kepada tindakan kriminal, seperti melakukan pemalakan bagi warga setempat, pembakaran sekolah, kebun dan rumah warga, pemerkosaan, pembunuhan dan sebagainya.
 
“Mereka melakukan pemalakan kepada mobil yang mengangkut sembako ke kota Mulia dengan tarf terendah Rp30 juta per mobilnya, selain itu mereka juga melakukan pembunuhan kepada warga yang tidak mengikuti keinginan mereka,” terang Enembe.
 
Selain itu, lanjut dia, mereka juga melakukan pembunuhan kepada warga setempat dan juga aparat keamanan, jika tidak mengikuti kehendak mereka. “Seharusnya LSM melihat bahwa kelompok ini juga telah melakukan pelanggaran HAM, tapi mengapa pelanggaran HAM hanya dilihat dari aparat keamanan, apakah HAM hanya melindungi kelompok separatis?” tanya Enembe.
 Sementara itu, penuturan yang sama juga dikatakan Kadistrik Tinggi Nambut, Herenimus Kogoya, dia membenarkan bahwa TPM/OPM di wilayahnya sudah tidak murni tentang idiologi merdeka tetapi tindakan mereka sudah mengarah pada kriminalitas.
 Ia mengaku sering diancam oleh kelompok tersebut, jika tidak memenuhi kehendak mereka. “Sudah dua tahun saya tidak naik di daerah saya karena saya diancam akan di bunuh oleh mereka, terakhir saya mengantarkan uang sebanyak Rp30 juta sebagai uang jasa rokok agar mobil yang membawa sembako yang biasa melewati jembatan Tinggi Nambut bisa tembus hingga ke kota Mulia. Tapi sangat lucu, kaki saya malahan jadi sasaran peluru mereka,” tandasnya.
 Untuk diketahui Distrik Tinggi Nambut diduga menjadi markas TMP/OPM pimpinan Goliath Tabuni. Distrik ini bisa ditempuh dengan jarak 1 jam perjalanan darat dari kota Mulia Ibukota Kabupaten Puncak Jaya.
 Kelompok ini diduga berada di kampung Tinggi Neri, dengan beranggotakan sekira 300 orang, yang dilengkapi 22 pucuk senjata api hasil rampasan dari aparat keamanan sejak tahun 2004 lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar