WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

23 Agt 2010

Jurnalis Sepakat Boikot Berita Polda Papua

Aksi Demo Wartawan

Juga Minta Kapolda Papua Segera Diganti

Opera yang mengisahkan seorang wartawan yang tengah menjalankan tugas liputan di lapangan yang ternyata dihalang-halangi aparat keamanan. Aksi ini dilakukan dalam aksi demo seratusan wartawan di Mapolda Papua kemarin. JAYAPURA—Seratusan wartawan media cetak ma upun elektronik,  baik lokal maupun nasional yang beker ja di Papua dan Jayapura, khususnya akhirnya memilih sikap tegas memboikot pemberitaan , khususnya di lingkungan Polda Papua terhitung mulai Senin (23/8) sampai Polda bisa mengungkap kasus pembunuhan seorang Wartawan Merauke TV dan teror kepada sejumlah wartawan di Merauke.
Tak hanya itu, para wartawan juga  meminta Kapolri agar segera mencopot Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto karena dinilai tidak mampu  menyelesaikan persoalan-persoalan Papua,. Salah satunya adalah pembunuhan terhadap wartawan Merauke TV Ardiansyah Matra’is (25) dan kasus teror kepada sejumlah wartawan di Merauke.
Demikian disampaikan  Ketua AJI Kota Jayapura Victor Mambor saat menggelar aksi unjukrasa di Halaman Mapolda Papua, Jaya­pura, Senin (23/8) pagi kemarin. Pernyataan sikap ini sebenarnya disampaikan langsung kepada Kapolda Papua yang  dinilai memiliki kewenangan dan tanggungjawab untuk mengungkap kasus pembunuhan wartawan tersebut. Namun demikian, setelah berjam jam menunggu  Kapolda Papua  tak juga menampakan diri.
Dia mengatakan, hasil otopsi polisi diketahui wajah korban bengkak diduga akibat penganiayaan. Beberapa gigi depannya terlepas serta dibagian tubuh lainnya juga terdapat luka bekas pukulan benda tumpul.  Leher korban terlihat dijerat seutas tali. Lidahnya  menjulur keluar serta telinganya terus mengeluarkan darah. Meski   telah melakukan otopsi  polisi masih  melakukan uji forensik  terhadap jasad korban. Tapi belum tentu pelaku bisa segera diketahui.
Dikatakan, korban dilaporkan  hilang oleh keluarga pada tanggal 28 Juli 2010 kemudian ditemukan  tewas mengapung di sungai Maro  29 Juli 2010 atau korban hilang sekitar 6 jam. Sebelum meninggal dunia korban  dan wartawan  Merauke lain menerima teror lewat pesan singkat.
Hal ini membuat para wartawan  bersikeras    masuk  ke ruangan guna menemui  Kapolda Papua.  Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Pol Wach yono akhirnya menyeruak masuk   ke tengah tengah kerumunan  pengunjukrasa untuk menyampaikan sesu atu. Kontan pengunjukrasa menolak kehadirannya. “Kami hanya ingin  bertemu dengan Jenderal Bekto tanpa mesti diwakili karena ia telah  berjanji kepada kami untuk segera mengungkap pembuhan rekan kami,” teriak pengunjukrasa spontan.
Saat tiba di Halaman Mapolda Papua, Jayapura, pengunjukrasa mengenakan  busana hitam dan membawa karangan bunga  sebagai simbol belasungkawa atas mening galnya wartawan Merauke TV Ardiansyah Matra’is.
Mereka juga  mengusung belbagai spanduk dan poster  yang berisi stop teror dan kekerasan terhadap wartawan, kapolda papua jangan hanya tidur dan lain lain. Sejumlah aparat keamanan  berjaga jaga  di sekitar lokasi unjukrasa.
Aksi unjukrasa ini diawali dengan doa yang dipimpin Sekretaris AJI Kota Jayapura Cunding Levi. Sambil  berlutut ia menyampaikan keprihatinannya terkait pembunuhan  terhadap wartawan Merauke TV Ardiansyah Matra’is.
“Ya Allah, Tunjukkan jalan kepada Bapak  Kapolda Papua dan jajarannya agar ia mampu melakukan tugasnya untuk mengungkap pelaku  dan motif pembunuhan terhadap rekan kami almarhum Ardiansyah Matra’is,” tukas  kontributor Majalah Tempo Jayapura ini. Pengunjukrasa menaburkan bunga ke arahnya sembari  meneteskan air mata mengenang almarhum Ardiansyah saat masih  menunaikan tugas kewartawanannya. Sungguh piluh.
“Hari ini rekan  kami telah terbunuh.  Besok rekan kami lainnya. Kami minta jaminan keamanan bagi seluruh jurnalis yang  menunaikan  tugasnya di  Tanah Papua,” imbuhnya. “Uang  yang  merupakan hak wartawan dipotong setiap bulan untuk keamanan masyarakat di seluruh Tanah Air, tapi kenapa kekerasan masih terus menimpah warwawan,” tukasnya.  
Usai melantunkan doa.  Cunding Levi  merebahkan tubunnya. Tanpa petunjuk pengunjukrasa menggelar opera yang mengkisahkan seorang wartawan yang tengah  menunaikan tugas liputan dilapangan ternyata ia  dihalang halangi aparat keamanan.
Lama menunggu kehadi ran Kapolda Papua. Pengunjukrasa satu  persatu menggelar orasi yang  intinya mengecam ketakmampuan  Kapolda Papua mengungkapkasus pembunuhan Mera uke TV Ardiansyah Matra’is. “Mengapa  Pak Kapolda tak mampu mengungkap pelaku pembunuhan terhadap rekan kami   Ardiansyah, tapi justru Mabes Polri yang mengungkap kematiannya,” tutur Netty Dharma Somba, wartawan The Jakarta Post. 
“Wartawan adalah mitra Polri. Setiap hari  kami menyampaikan keberhasilan Polri dalam menjaga kantibmas di Tanah Papua, tapi  Pak Kapolda seakan tak mempedulikan luka lara yang diderita rekan kami almarhum Ardiansyah dan keluarga  yang ditinggalkannya. Kami capek Pak Kapolda,” tukas wartawan  harian Cenderawasih Pos Ronald Manurung yang betugas di lingkungan Polda Papua.  
Seorang aparat keamanan tiba tiba mendatangi  pengunjukrasa guna menyampaikan setelah selesai Sholat Kapolda Papua berjanji  akan  menemui  wartawan. Tapi tak diwujudkan. Informasi yang diterima Kapolda menyerukan agar  pengujukrasa mendelegasikan seorang pengunjukrasa untuk menemuinya. Kontan permintaan ini ditolak.
Alhasil, Cunding Levi menyampaikan  pernyataan bersama memberikan dead-line (batas akhir) selama seming gu kepada Kapolda Papua dan jajarannya me ngungkap pelaku dan motif pembunuhan terhadap wartawan Merauke TV Ardiansyah Matra’is. Apabila selama waktu yang ditentukan Kapolda tak mampun  mengungkapnya maka pihaknya akan menyampaikan mosi tidak percaya kepada Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto MSi. Hal ini disampaikan lantaran Kapolda Papua tak mampu mengungkap kematian wartawan.  Pernyataan bersama ini  rencanakan disampaikan kepada Presiden beserta menteri menteri, Komisi III DPR RI, Mabes  Polri, Komnas HAM Pusat  dan lain lain.  
“Kami juga mendesak  agar Kapolda Papua dimutasikan karena  kami nilai tak mampu menjaga keamanan di Tanah Papua,” tegasnya.
Ditengah tengah aksi unjukrasa tersebut hadir  Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Matius Murib sekaligus didaulat menyampaikan pernyataan sikap.  Dihadapan pengunjukrasa  ia  mengajak seluruh pekerja pers untuk menundukkan kepala dan mengheningkan cipta bagi meninggalnya rekan Ardiansyah. Selanjutnya ia  menyampaikan pernyataan sikap antara lain almarhum Ardiansyah adalah pelaku demokrasi serta pers adalah penegak HAM. Karena itu seluruh komponen masyarakat di Tanah Papua seyogyanya lah memberikan perhatian untuk mengungkap kasus  pelanggaran HAM ini. 
“Saya menduga kasus pembunuhan wartawan ini memiliki korelasi dengan Pilkada di Merauke. Untuk itu aparat polisi  harus mampu mengungkap pelaku dan motivasi pembunuhan terha dap wartawan,” tegasnya. 
Ketika hendak meninggalkan Mapolda Papua, Jayapura pengunjukrasa menyerahkan karangan bunga dan  pernyataan  bersama yang diletakan dibawah kaki Bripka Pol Agus K.  Pengunjukrasa akhirnya meninggalkan Mapolda Papua dengan tertib.              
Sebagaimana diketahui   seratusan wartawan ini kembali memadati halaman Mabes Polda Papua karena kesal dengan sikap polisi yang terkesan tidak ambil pusing terhadap penuntasan kasus pembunuhan, teror dan intimidasi yang me nimpa wartawan di Merauke. Sebelumnya, pada Juli lalu, seratusan wartawan ini telah mendatangi Polda Papua, mereka mendesak keseriusan Polisi mengungkap sekaligus menangkap pelaku pembunuhan wartawan Merauke TV Ardiansyah serta penebar teror wartawan di Merauke.
Sambil membawakan spanduk dan pamflet, Senin (23/8) siang kemarin, seratusan wartawan ini melakukan longmarc dari kantor DPRPapua menuju Mabes Polda Papua yang berjarak sekitar dua ratus meter lebih, saat memasuki pintu gerbang Mabes Polda Papua, wartawan melakukan aksi jalan mundur sebagai pertanda bahwa kinerja Polda Papua buruk.
Setiba di Mabes Polda Papua, seratusan wartawan ini langsung menggelar orasi-orasi tidak terkecuali orasi juga dilakukan para pimpinan media cetak di Jayapura, antara lain, Pemimpin Redaksi (Pemred) Cenderawasih Pos, Pemred Bintang Papua, Pemred Pasifik Pos, Pemred Tabloid Suara Perempuan Papua, serta media cetak lainnya yang ada di Papua.
Wartawan juga mendesak Kapolda Papua agar mene mui sekaligus memberikan penjelasan kepada wartawan, terkait perbedaan persepsi antara Polres Merauke, Polda Papua dengan POLRI. Namun sayangnya Wakapolda Papua Brigjen Pol Arie Sulistyo yang katanya akan bertemu wartawan setelah sholad, tidak kunjung datang. Menurut penjelasan pihak Polda bawah Wakapolda ha nya mau menerima perwakilan wartawan saja. Sementara wartawan menolak, karena para wartawan ingin mende ngarkan penjelasan langsung dari Wakapolda, jadi tidak perlu pakai perwakilan.
Tidak hilang akal seratusan wartawan inipun terus meneriaki Wakapolda Papua agar bisa menemui mereka, bahkan adu mulut antara salah satu anggota Polda Papua AKP Syahrial dengan wartawan tidak dapat terhindar. “Siapa yang mau lawan saya,” teriak Akp Syahrial dari lantai dasar gedung Polda Papua. Tantangan AKP Syahrial ini rupanya memancing reaksi para wartawan.
Wartawan terus meneriakkan yel-yel “Ganti Kapolda Papua, ganti Kapolda Papua,” bahkan nyanyian-nyanyian yang dikumandang beberapa wartawan-pun ikut memenuhi teriakan yel-yel tersebut.
Untuk meneruskan aspirasi mengganti Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto, para wartawan ini telah membuat mosi tidak percaya kepada Kapolda Papua yang kemudian akan diteruskan ke Presiden RI, DPR-RI, DPD-RI, Kompolnas, Gubernur Provinsi Papua dan DPRP dan pihak terkait.
Selain itu, wartawan Pa pua juga akan melayangkan surat ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memeriksa dugaaan kasus korupsi benilai Rp1.9 miliar yang melibatkan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Papua Dr Achmad Hatari yang walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus korupsi,  namun kemudian di peties-kan atau dihentikan penyidikannya.
Para wartawan dan para pimpinan redaksi media cetak dan elektronik ini merasa diperlakukan tidak manusiawi, pasalnya janji-janji manis yang sering dilontarkan petinggi Polda Papua bahwa pers adalah mitra polisi seakan dikhianati.  “Katanya mitra, jangan mitra yang memanfaatkan wartawan untuk infomasi saja,” teriak para wartawan.
Oleh karena itu, para pemimpin media cetak maupun elektronik nasional ini sepakat untuk memboikot berbagai jenis pemberitaan yang melibatkan Polda Pa pua.  Kecuali berita-berita yang mengkritisi POlda.
Karena tidak ada satupun petinggi Polda Papua yang bertemu wartawan, maka krans bunga serta puluhan pamflet yang sedianya akan diserahkan pada Kapolda Papua ataupun Wakapolda Papua langsung diserahkan ke salah satu anggota polisi yang berjaga sejak orasi dimulai.(hen/mdc/dee)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar