WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

29 Nov 2009

Bucthar Masih Kesakitan


Tak Bisa Makan Akibat Dianiaya


JAYAPURA- Kondisi kesehatan Buchtar Tabuni ( napi makar) , pasca pengeroyokan di dalam LP Abepura, kini masih terganggu. Hal itu sebagaimana diungkapkan di Lapas Abepura pada saat konfrensi Pers Sabtu ( 28/11/09) di halaman Lapas Abepura, Buchtar mengakui akibat dianiaya itu, sekujur tubunya dalam keadaan sakit,  dimana luka di bagian dalam dan  kepala bengkak. Bahkan akibat luka dalam itu ia   mengatakan sampai sekarang ini tidak bisa makan.
"Sebab di  bagian dalam mulut saya sangat sakit ada luka – luka kalau mengunnya makanan tidak bisa, karena makanan menempel di dalam, sehingga saya takut makan, dan setelah kejadian memang saya sempat pingsang dan tidak sadarkan diri,”jelasnya polos.
Ia juga mengatakan, tidak bisa minum obat, karena tidak makan nasi, karena memang tidak ada makanan.  “ Dan juga saya dikunci dan sampai saat ini belum melakukan visum dan kontrol oleh pihak Lapas,”tambahnya.
 Bucthar Tabuni (BT)  menjelaskan kronologis pristiwanya sampai dikeroyok oleh oknum yang diduga TNI/POLRI ( Napi ) yang dititip di Lapas Abepura. Inilah penuturan Buchtar yang dimuat utuh Bintang Papua.
 “Awal kejadian yaitu oknum yang diduga TNI ( Napi ) dia masuk ke Lapas. Setelah masuk dia kasi tahu sama adik satu katanya, Mana itu yang namanya BT? Jadi waktu itu saya juga sangat tersinggung dan saya suru beberapa adik – adik untuk menanyakan kepada dia, apa maksudanya,”ceritra Buchtar.
 Dari situ dirinya sudah mulai ada rasa curiga, sebab ada beberapa oknum yang diduga anggota TNI ( Napi ) yang masuk lagi di dalam Lapas Abepura.
BT juga menambhakan ,”awalnya kami tidak ada air setelah itu kami mengeluh kepada aparat Lapas, sehingga masalah air dapat teratasi,”tabahnya.
“Setelah kami semua sudah masuk kedalam blok, kami masing – masing dan dikunci,  selanjutnya kelompok oknum yang diduga anggota TNI/Polri ( Napi ) pergi dan berkumpul di lapangan yang berada di dalam Lapas,  setelah pertemuan
mereka kembali ke Blok saya dan mengatakan kepada saya bahwa ini adalah pemindahaan kamar, sehingga kamu ( BT ) harus keluar dari sini.
Saya ( BT ) sagat heran, lalu saya katakan kepada mereka bahwa kalian ini kan bukan petugas  dan ini juga kan sudah malam, jadi yang berhak memindahkan saya adalah petugas, karena kesal saya langsung banting pintu keras – keras, sehingga mereka gembok pintu tersebut dari luar.
Setelah itu salah satu oknum yang diduga anggota TNI ( Napi ) berkata kepada saya, BT ko jangan macam – macam  kami ada pantau kamu di sini.
Dan saya mulai mengigat beberapa kalimat yang dari awal orang masuk terus tanya keberadaan saya. Oleh sebab itu saya emosi dan dengan spontanitas saya langsung mengeluarkan kata – kata yang kurang enak.
Akibat dari kata – kata tersebut  dia (oknum yang diduga anggota TNI  Napi)  langsung buka gembok pintu saya dan tarik saya keluar, selanjutnya mereka mengeroyok saya rame – rame, untung ada Haris  amankan saya, tapi setelah Haris amankan saya mereka tak berhenti disitu, mereka sangat bernafsu membunuh saya pada saat itu juga.
BT juga mempertanyakan ,”dari rentetan peristiwa tersebut menjadi pertanyaan kepada saya adalah ke napa petugas Lapas Abepura memberikan kunci kepada mereka dengan leluasa melakukan peristiwa tersebut, dan masa ada petugas Lapas Abepura yang mabuk ini kan sama dengan kecolongan ataukah ini memang segaja di atur sedemikian rupa,”tanya BT dengan heran.
Sedangkan Kalapas Abepura, Anthonius M Ayorbaba,SH.Msi didampingi beberapa pejabat Lapas Abepura menjelaskan,” setelah kejadian malam itu Kamis ( 26/11/09)  sebagai Kalapas dirinya tiba di Lapas   jam setegah delapan malam. Langkah yang dilakukan
memanggil semua tampi keamanan untuk melakukan briefing. Selain itu  juga mengecek peristiwa yang sesungguhnya terjadi. “Setelah pertemuan dengan para tamping langsung saya menuju ke kamar BT bersama dengan kepala seksi bimbingan Napi dan anak didik kami duduk bersama – sama dengan BT,”katanya.
Kemudian ia menyuruh petugas memanggil  mantri bernama Meky  untuk melakukan perawatan terhadap BT.
Kalapas dalam pembicaraan dengan BT telah berjanji untuk mengusut masalah ini dengan tuntas.”Berikanlah kepercayaan kepada saya sebagai Kalapas karena yang namanya pelanggaran disiplin di dalam Lapas,  bentuk penanganannya harus di tempu dengan pembuatan kronologis masalah  dengan mem BAP siapa – siapa yang terlibat.  Dalam masalah tersebut baru akan di putuskan langkah – langkah berdasarkan jenis hukuman yang akan dipertibangkan.” Setelah saya bertemu dengan BT saya langsung ke Blok Tapol Sebby Sembom Cs untuk menyampaiakan hal yang sama dan sekaligus menanyakan kepada Seby, sebab beberapa sms yang masuk kepada saya  di bawanya mengirim nama Sebby Sebom sebagai pengirimnya,”lanjutnya.
Dan Sebby juga mengakui akan sms yan beredar di tenggah – masyarakat dan juga terkait dengan memobilisasi massa untuk datang ke Lapas adalah dari saya.
Kalapas juga sangat menyesali akan di langgarnya komitment bersama yang di buat bersama – sama dengan Sebby cs
Kalapas juga menambahkan bahwa tahanan Oknum yang di duga adalah TNI/Polri ( NAPI ) bukan TNI/POLRI aktif yang segeja dititipkan di Lapas sebagai warga binaan.
Oleh sebab itu untuk penaganan akan masalah ini pihaknya sudah koordinasi dengan koordinator pengacara BT Cs Piter ELL SH untuk di lakukan secara adat saja  melalui pendekatan budaya.
Dimana ada 4 langkah yang sudah disepakati bersama yaitu yang pertama mereka yang statusnya Napi TNI/POLRI  yang berada sudah di tarik sejak kemarin. Dan menempatkan mereka di rumah tahan militer di waena. Kedua BT Cs  telah berjanji lewat lobi yang di lakukan oleh penasihat Hukum mereka bhawa seluruh kerusakan yang terjadi di kantor Lapas akan di selesaiakn dalam bentuk Adat orang Papua. Ketiga adalah dalam rangka pelaksanaan KKR tanggal 1 Desember jam tiga sore oleh Pdt Gilbert Lumeidong STh BT Cs harus menjaga Kamtibmas di Lapas.
Dan yang terkhir adalah akan ada penyelesaian lebih lanjut yang akan di fasilitasi Komnas Ham Perwakilan Papua ,Koordinator Pengacara BT Cs Kalapas, Kapolsek,Okmil dan Danpom  untuk mendudukan tiga pelaku NAPI yang diduga anggota TNI dan satu Anggota Napi Kepolisian bersama – sama dengan BT Cs untuk meyelesaiakan masalah tersebut, serta perlu diketahui bhawa untuk menjaga Kamtibmas di Lapas Abepura maka Satu Kompi Brimob Polda Papua di tempatkan di LP.
Sementara usai konfrensi Pers  Sabtu (28/11) BT meminta kepada kakanwil Hukum dan Ham Provinsi Papua agar segera memecat Kalapas Abepura  dan beberapa stafnya, sebab diduga ada indikasi kerja sama oleh TNI/POLRI  melakukan aksi intelejen repressif terhadap tahanan Politik BT Cs, seperti contoh penganiaayaan terhadap BT tertanggal  26/11/09 dengan motif pencobaan pembunuhan berencana.(cr-1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar