WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

27 Nov 2009

Bucthar Dianiaya, Massanya Protes


Pelakunya Anggota TNI/Polri

JAYAPURA–Situasi Keamanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2 A Abepura Jumat kemarin, mendadak berubah menjadi tidak terkendali. Ini menyusul adanya aksi demo yang dilakukan sekitar 200-an massa yang terdiri dari perempuan dan laki – laki sambil berteriak – teriak hidup BT. Bebaskan BT dari tahanan Lapas, sebab telah terjadi penganiayaan terhadap BT.
Aksi massa yang mengaku keluarga Bucthar Tabuni (BT) ini, sebagai buntut penganiayaan terhadap Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat, Buctar Tabuni yang adalah tahanan politik di lapas Abepura. Bukcthar diduga dianiaya oleh anggota TNI/POLRI serta pengawai Lapas Abepura. 
Dari Pantau Bintang Papua di TKP, Personil gabungan Polresta Jayapura yang dipimpin langsung Kabag Ops AKP Dimingus Rumaropen S.sos dan Kapolsek Abepura AKP Yafet Karafir, sedang menenangkan massa yang nyaris tidak terkedali.
Aksi massa tersebut baru redah ketika Kalapas Abepura Antonius Ariobaba SH,M.Si yang juga, Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi Papua hadir di TKP dan memberikan penjelasan
Massa yang dipimpin Koordinator Lapangan Usama Yogoby kepada Bintang Papua mengatakan, aksi ini adalah aksi damai sebagai bukti dari soladaritas dan dukungan moral penuh kepada BT. “Kami tidak mewakili organisasi siapa – siapa melainkan atas nama keluarga dari saudara kami BT yang dianiaya dan diduga mendapat diskriminasi sebagai tahanan politik di Lapas Abepura,”jelasnya Jumat( 27/11)
Menurut Yogoby dan sms singkat yang beredar di tenggah – tegah masyarakat yaitu Info Buktar Tabuni ( Tapol ) Sekitar Jam 19.00 Wit Kamis 26 November  2009 di keroyok 2 anggota TNI/ Polri dan 1 petugas LP di Lapas Abepura, akibatnya yang bersangkutan  mengalami luka serius di sekujur tubuh bahkan sempat tidak sadar ( Pingsang ). Alasan mereka menganiaya BT adalah yang bersangkutan sering melakukan provokasih di Lapas Abepura, tolong dilanjutkan ke jaringan  atau teman – teman lain.
Sms berikut yang didapat Bintang Papua adalah pelaku penganiayaan terhadap Buctar Tabuni,18 : 15 Wit Tanpin–Tampin  anggota TNI Samsul Bactri,Yansen Korwa,Robby Polri Theo Awii Sebby&Amoye. Sms tersebut sempat beredar luas di tegah – tegah masyarakat.
Sebelum aksi demo oleh massa di Lapas Abepura, sekitar jam setegah dua belas siang pada malam hari nya Bintang Papua ketika mendapatkan sms tersebut langsung mencoba menghubungi Kalapas Abepura Antonio Airobaba SH,Msi sekitar jam satu malam melalui telepon selulernya, namun Kapalas membantah adanya penganiayaan dan kekacauan di Lapas Abepura.
Esok  siangnya sekitar jam setegah dua belas siang Jumat ( 27/11)Bintang Papua dihubungi oleh salah seorang wartawan untuk pergi ke Lapas Abepura yang  di kerumuni massa yang mengatas namakan  keluarga BT.
Dari Pantau Bintang Papua di halaman depan Lapas Abepura, Kalapas Abepura di dampingi Kabag Ops Polresta Jayapura serta Kapolsek Abepura AKP Yafet Karafir memberikan penjelasan kepada para pendemo menyangkut kejadian tersebut.
Menurut kalapas, aksi tersebut sangat sepeleh hanya disebabkan masalah air, sehingga terjadi adu argument dan saling berantam antara BT dan beberapa Anggota TNI yang juga adalah napi.
Menurut salah seorang sumber terpercaya dan tidak mau disebutkan
Namanya, aksi tersebut dipicu ketika BT menanyakaan air yang tidak mengalir
pada hal ia ingin mandi. Hal tersebut terjadi kurang lebih jam tuju malam.
Setelah itu BT masuk ke selnya dan selanjutnya Oknum Tahanan yang diduga anggota TNI datang dan membuka selnya BT,  selanjutnya membawa BT ke luar
untuk dikeroyok. Sebab menurut mereka BT melakukan provokasi.
Kalapas juga dalam penjelsanya sangat mengelu tentang ketersediaan air yang ada sehingga memicu aksi pengroyokan tersebut. “Untuk itu kami sangat kesulitan mendapatkan pasokan Air bersi,”katanya.
Sementara itu massa pendemo yang bernama Simon Olua mahasiswa semenester 7 Fisip Uncen kepada Bintang Papua Jumat ( 27/11) mengatakan,”saya mempertanyakan kenapa sampai tahanan militer bisa ditempatkan di Lapas Abepura, pada hal mereka kan mempunyai rumah tahanan sendiri yan berada di Waena, ini ada seknario apa ini,” tanyanya dengan heran.
Dalam penjelasannya Kalapas menjelasakan bahwa Oknum TNI yang melakukan aksi penganiayaan tersebut sengaja dititipkan pihak TNI di Lapas Abepura, sebab mereka ( pihak TNI ) tidak ada dana untuk mengirim anggota TNI yang sudah menjadi napi tersebut ke Makassar.
Lanjut Kalapas termudah di  Indonesia ini, bahwa pihaknya sebagai Kalapas Abepura telah membuat yang terbaik serta mempertaruhkan jiwa dan raga untuk membina para napi di lapas ini.
“Bahkan saya juga telah mempersiapakan suatu KKR yang dipimpin oleh Hamba Tuhan terkenal Pdt Gilbert Lumoindang yang akan datang pada tanggal 1 Desember dan memberikan penguatan – penguatan rohani kepada para napi, tapi sayang BT Cs menolak akan kedatangan Hamba Tuhan terkenal tersebut.
Mendengar penjelasan Kalapas Abepura massa mulai tenang dan mempertanyakan keadaan BT yang diduga telah dianiaya anggota TNI/Polri yang ditahan di dalam Lapas Abepura.
Massa mulai beringas dan geram ketika Kalapas mengatakan untuk perwakilan saja yang dari massa pendemo untuk bertemu BT. “Kami ingin saudara kami BT dibawa keluar, sehingga memberi penjelasan kepada kami bahwa dia tidak disakiti dan dalam keadaan baik – baik saja,” jelas Festus Ason.
Namun permitaan tersebut tidak diijinkan Kalapas, sehingga terjadi adu argumen yang sangat alot.
Dimana menurut Kalapas, masa pendemo tidak mempercayai orang yang kalian tuakan sebab disini, kan ada Komanas HAM Bapak Matius Murib, Pengacara BT Piter ELL dan kawan-kawan.
Mendengar penjelasan tersebut, massa pun menyetujui dan beberapa perwakilan pendemo dan komnas Ham serta Pengacara BT Cs masuk bertemu BT untuk memastikan bhawa BT dalam Keadaan baik – baik saja.
Namun sangat disayangkan wartawan dilarang masuk untuk meliput pertemuan tersebut.
Kurang lebih satu jam pengacara BT Cs yang didampingi beberapa utusan  memberikan penjelaskan kepada wartawan dan massa pendemo tentang keberadaan BT.
Piter Ell Pengacara  BT menjelaskan, ada du alternatif yang pihaknya lakukan yaitu dengan cara hukum atau secara adat. “Sehingga kami putuskan untuk menyelesaiakanya dengan secara adat dan hal tersebut diminta langsung BT dan Seby Sebom, sehingga tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan,”katanya.
Sementara itu Perwakilan Komnas Ham Papua Matius Murip kepada Bintang Papua Jumat ( 27/11) mengatakan, ada terjadi penyalagunaan kewenangan dan tindakan mereka tidak bisa diterimah oleh siapapun, apa lagi oleh Komnas Ham.
Sebab siapapun warga negara yang ditahan di Lapas ini harus dijamin aman sesuai dengan amanat konstitusi. Namun Komnas Ham sesalkan kekeran yang dilakukan saat ini. “Untuk kami akan memberikan rekomendasi kepada pihak Lapas Abepura untuk tetap tunduk sesuai prosedur tetap yang berlaku. Dan harapan kami ke depan yaitu pihak Lapas Abe harus profesional dalam menjalankan tugasnya. Dan pihak TNI hari ini juga telah mengambil tindakan tegas untuk menarik semua pasukan yang di tempatkan di Lapas Abepura,”harapnya. (cr-1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar