WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

13 Jan 2010

Tokoh OPM Nicholas Jouwe Pulang Kampung


Ajak Rakyat Papua Bangun Tanah Kelahirannya
JAKARTA-Salah satu tokoh pendiri pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengasingkan diri di Belanda selama 40 tahun akhirnya memberanikan diri kembali ke Indonesia alias pulang kampung.
Kedatangannya Nicholas Jouwe (86) adalah untuk memenuhi panggilan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono agar kembali ke tanah air supaya dapat melakukan rekosiliansi dengan rakyat Papua.
Ditemani Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono dan Ketua Dewan Penasihat Independen Pendukung Keutuhan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (IGSARPRI), Franz Albert Yoku. Dirinya menyatakan mendukung sepenuhnya intregrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan begitu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Papua agar kembali bersatu dan membangun daerahnya. "Papua merupakan daerah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Tanah Air Indonesia yang wilayahnya terbentang dari Sabang hingga Merauke," tegasnya di hadapan puluhan wartawan dan disambut tepuk tangan para hadirin.
Dengan tegas Nicolaas juga menyatakan suara-suara yang dilontarkan oleh mereka yang masih mengaku sebagai anggota OPM hanya omong kosong belaka. "Itu hanya suara anak-anak muda yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berteriak, "OPM, OPM merdeka?, padahal tidak tahu apa-apa," ujarnya lagi dengan terbatuk-batuk.
Menurutnya, ungkapan kemerdekaan dilontarkannya tidak jauh berbeda dengan persoalan yang terjadi di belahan dunia lainnya. Tak lain adalah masalah kesejahteraan. "Untuk itu saya senang pemerintah Indonesia tak henti-hentinya membangun Tanah Papua demi kesejahteraan rakyatnya. Kita ini satu bangsa, dan satu negara Indonesia yang berwilayah dari Sabang hingga Merauke," tandasnya.
Dirinya menyatakan, setelah kembali menginjakkan kaki di Tanah Airnya kali ini ia tidak akan lagi kembali ke negara pelariannya. Terlebih perhatian pemerintah dengan memberikan bantuan kepada rakyat Papua melebihi 20 trilliun. "Kali ini saya meninggalkan Belanda dan pulang ke Tanah Air Indonesia untuk selama-lamanya," sahutnya.
Sementara itu Agung menegaskan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan Nicholas Jouwe yang telah membulatkan tekad untuk sama-sama membangun daerahnya. Sebagai pembuktian bahwa ia benar-benar kembali menjadi warga negara Indonesia, ia juga mengajaknya makan bersama. "Pak Nicholas tadi sengaja kami suguhi makan siang dengan makanan menu Indonesia. Katanya soto dan gado-gadonya rasanya nikmat," tambah Menko Kesra.
Kembalinya Nicholas ke tanah air terjadi berkat usaha keras yang dilakukan oleh IGSARPRI dengan Pemerintah Republik Indonesia. Apalagi setelah tiba di bandara ia langsung dibawa oleh rombongan menuju istana presiden dan kantor Kemenko Kesra. "Nicholas sudah tiba di Jakarta pada Senin (11/1) dan kini masih istirahat beberapa hari ini Jakarta sebelum terbang ke Tanah Papua," kata Franz Albert Yoku.
Dia mengatakan, dari Belanda, Nicholas didampingi antara lain anggota pengurus IGSSARPRI yakni Adolf Hanasbey dan Fibiolla Ohee. Franz mengatakan, tokoh OPM ini akan mengisi sisa-sisa hidupnya di tanah kelahirannya sendiri di wilayah Jayapura, tepatnya di Kota Jayapura.
Kerinduannya untuk segera pulang ke kampung halamannya memang sudah memuncak, terlebih ia sempat menemui keluarganya yang tinggal di Kayu Pulo pada Maret 2009 lalu. Di sinilah semangatnya untuk menghabiskan sisa hidupnya kembali di dalam hatinya setelah lama tinggal di negeri yang asing baginya.
Namun sekali lagi, ia meminta agar pemerintah benar-benar memperhatikan kesejahteraan bagi rakyat Papua agar tidak timbul lagi gerakan-gerakan pemberontakan lainnya.
"Kami adalah warga Indonesia jadi tidak ada yang namanya dialog lagi. Saya bangga karena Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia dan negara Islam yang cinta akan perdamaian. Yang lebih membuat kami bangga adalah karena bisa menjadi bagian di dalamnya," pungkas Jouwe.
Ketua Dewan Penasehat Independent Group Supporting The Autonomous Region of Papua with The Republic of Indonesia (IGSARPRI) Franz Albert Yoku yang juga sebagai salah satu mantan tokoh OPM saat dihubungi lewat telepon di sela-sela melakukan penjemputan terhadap Nicholas Jouwe di Jakarta, Selasa (12/1) mengatakan, kembalinya pejuang Papua asal Kayu Pulo Port Numbay tersebut adalah hasil lobi dan kerja sama antara kelompok independent IGSSARPRI dengan Pemerintah Republik Indonesia.
"Ya, sementara ini saya berada di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, untuk menjemput saudara Nicholas Jouwe, dia akan istirahat beberapa hari di Jakarta, selanjutnya akan menuju ke Papua," jelas lelaki yang sempat juga berjuang organisasi Papua meredeka (OPM) di PNG ini.
Selama di Jakarta, Nicholas Jouwe akan ditemani oleh Menteri Perhubungan Fredi Numberi serta beberapa tokoh Papua di Jakarta, dirinya juga direncanakan akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY sebelum kembali ke Papua.
Sehubungan dengan telah kembalinya tokoh OPM ini ke Tanah Airnya di Papua, tentunya akan membawa berbagai opini yang akan beredar di masyarakat Papua. Untuk itu Franz Albert Yoku berharap agar masyarakat terutama masyarakat Papua, untuk lebih berpikir yang positif, pasalnya kepulangan Nicholas Jouwe ke Jayapura merupakan langkah yang baru yang diambil oleh Pemerintah Indonesia, yang mana mampu memberikan kesempatan kepada Tokoh OPM tersebut untuk mengisi masa akhir hidupnya di tanah airnya.
Soal kemerdakaan Papua yang selama ini diperjuangkan oleh Nicholas Jouwe selama ini, Franz menyatakan, kemerdekaan yang selama ini diperjuangkan oleh Nicholas Jouwe adalah ingin agar rakyatnya sejahtera di berbagai bidang, dan kesejahteraan tersebut sudah tercapai saat ini lewat otonomi khusus, buktinya Nicholas juga sempat memuji perkembangan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap proses pembangunan di Papua, ketika dirinya melakukan kunjungan ke Papua Maret 2009 lalu.
"Hakekat kemerdekaan kan bagaimana masyarakat Papua itu sejahtera, kini kita sudah diberikan kesempatan melalui otonomi khusus, sehingga kita harus manfaatkan dengan baik agar masyarakat Papua bisa sejahtera,"tuturnya. (mom/jpnn/cak/fud) (scorpions)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar