WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

21 Des 2009

WNI Korban Penembakan di Perbatasan Papua Niugini Membaik


Senin, 21 Desember 2009 | 10:43 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ichwan Susanto

JAYAPURA, KOMPAS.com — Kondisi Fadli Sagaf, warga Jayapura, Papua, korban penembakan di perbatasan Papua-Papua Niugini, Senin (21/12/2009), berangsur-angsur membaik. Namun, hingga kini, tim medis di Rumah Sakit TNI Marthen Indey, Jayapura, belum mengambil proyektil peluru di tubuh korban.
"Saya sudah bicara dengan dokter yang merawat korban, kondisi korban sudah bagus, sudah bicara," ujar Letnan Kolonel (Inf) Susilo, Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih di Jayapura.
Dijelaskannya, pada Sabtu malam, Fadli tertembak di bagian punggung tembus ke dada kanan. Untungnya, peluru tidak mengenai organ-organ penting di tubuhnya. Menurut Susilo, berdasarkan analisis sementara dan laporan petugas dari lapangan, saat penembakan, Fadli Sagaf dan Abdul Muksin (korban tewas) sedang berada di luar mobilnya, Toyota Innova (DS 1640 JL).
Diduga, saat itu, mereka sedang duduk-duduk dekat mobil yang diparkir di samping pagar zona netral atau masih di wilayah Indonesia. Tiba-tiba, beberapa orang mendatangi mereka dari balik pagar zona netral. Salah seorang di antaranya menodongkan senjata genggam (jenis revolver) ke arah Muksin. Peluru menembus dari leher hingga ke pinggang.
Melihat rekannya bersimbah darah, Fadli mencoba menyelamatkan diri dengan berlari ke arah zona netral menuju pos Papua Niugini. Namun, pelaku berhasil menembaknya di punggung. Pelaku kemudian melarikan diri dengan melompat pagar menuju hutan.
Korban Fadli dibawa petugas di pos Papua Niugini yang hanya berjarak 100 meter dari lokasi kejadian. "Kejadian sangat cepat sehingga petugas di PNG ataupun yang berada di pos kita tak dapat mengejar pelaku," ujar Susilo.
Sementara itu, ihwal aparat TNI yang berada di pos perbatasan, ia mengatakan, lokasinya terlalu jauh dari lokasi kejadian (500 meter) dan harus melewati pos polisi dan imigrasi. Ini membuat aparat terlambat mencapai lokasi. Susilo pun mengatakan, saat kejadian gerbang perbatasan ditutup, esok harinya dibuka kembali. Hari ini, gerbang telah dibuka normal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar