WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

22 Sep 2010

Insiden Manokwari Dikecam Anggota DPR-RI Asal Papua

Jakarta—Dua anggota DPR RI asal tanah Papua Diaz Gwijangge dan Michael Watimena mengecam insiden berdarah di Manokwari Rabu, 15/9 malam lalu yang menewaskan Naftali Kwan dan Septinus Kwan. Mereka juga mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas insiden tersebut. SOURCE
“Aparat kepolisian harus serius mengusut tuntas insiden berdarah itu dan mengganjar pelaku sesuai hukum yang berlaku. Manusia Papua bukan kelinci percobaan,” kata Diaz Gwijangge, anggota DPR Partai Demokrat asal Papua di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Rabu, 22/9.
Hal senada ditegaskan anggota DPR asal Papua Barat, Michael Watimena. Anggota Komisi V DPR itu meminta aparat penegak hukum melakukan proses pe ngusutan secara tuntas bertujuan agar tidak menimbulkan ekses berkepanjangan.
“Saya juga meminta masyarakat agar menahan diri dan tidak terprovokasi dengan situasi yang ada,” ujar Michael Watimena di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Rabu, 22/9.
Dua legislator itu pantas bersuara keras. Pasalnya, ujar Diaz, kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap penduduk sipil yang berakibat kematian, bukan kali ini saja. “Dua korban tewas itu orang kecil, bukan penjahat,” lanjut Diaz, le gislator yang lama berkecimpung dalam dunia advokasi civil society, lingkungan hidup, dan HAM di Papua dan Papua Barat.
Menurut Diaz, Naftali adalah Gembala Sidang Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) Cabang Manokwari di Distrik Kebar, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Sedangkan Septinus adalah petani miskin.
Tak hanya Naftali dan Septinus. Istri Naftali, Antomina Mandacan mengalami patah tulang paha kanan. Begitu juga Arfonika Kwan, istri Septinus. Arfonika ditemukan sekarat. Ia mengalami patah kaki, rahang, dan tulang pinggul.
Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari Yan Christian Warinussy melalui staf Divisi Informasi dan Dokumentasi Simon Banundi, mengemukakan, peluru maut itu berasal dari anggota Brimobda Polda Papua Kompi 3 Detasemen C Manokwari, Papua Barat, Rabu, (15/9) malam.
Insiden itu terjadi di Jalan Esau Sesa, Kelurahan Sowi, Distrik Manokwari Selatan, Papua Barat. Peristiwa berdarah itu bermula dari tabrakan di Jalan Esau Sesa sekitar pukul 18.30 WIT. Sebuah motor ojek melaju kencang dari arah Manokwari menuju Arfai, Manokwari Selatan.
Saat itu, motor ojek menabrak Antomina. Korban mengalami patah tulang paha kanan dan mengalami sakit di pinggul rusuk kanan. Tak terima, keluarga korban mengejar tukang ojek yang berlari ke arah Markas Komando Brimob, Kompi 3 Detasement C. Tak mendapati pelaku, keluarga korban memilih mengantarkan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut Simon, saat mendengar telah terjadi keributan dan ada warga yang mencari pengendara ojek, seorang anggota Brimob berlari datang. Saat itu ia tidak menenangkan massa, namun membuat keributan.
Massa yang tersulut emosi, melampiaskan kemarahan dengan menggunakan parang sehingga melukai seorang anggota Brimob. Setelah terluka, ia menghubungi teman-teman kesatuan di Makobrimob.
Tak lama berselang, sekitar pukul 20:00 WIT belasan anggota Brimobda Kompi 3 Detasemen C bersenjata lengkap datang. Mereka melepaskan tembakan sehingga membuat warga berhamburan. Sejumlah warga berlari ke arah hutan menghindari aparat.
Sekitar pukul 20:30 WIT, aliran lampu listrik di Kota Manokwari mati-hidup sekitar lima hingga enam kali sebelum akhirnya padam sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Seorang pedagang di sekitar RSUD Manokwari mengatakan, saat listrik mati sebuah mobil masuk ke halaman RSUD Manokwari.
Mobil itu menurunkan sesuatu dan langsung dibawa ke UGD. Saat itu, seluruh jendela ditutup rapat. Hanya satu lampu sorot yang menyala di dalam ruangan. Selang beberapa saat tersiar kabar ada mayat di ruang mayat.
Sepanjang Rabu malam hingga Kamis (16/9) pagi tidak ada sanak keluarga yang datang menengok mayat. Baru sekitar pukul 09:00, keluarga tiba dan mengenali mayat yang tak lain adalah Naftali.
Sekitar pukul 09:30, warga kembali menemukan mayat Septinus di tepi jurang. Warga juga menemukan Afronika Ibu ini ditemukan dalam keadaan sekarat dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Ia menderita patah kaki, patah tulang rahang dan patah tulang pinggul. Korban diduga jatuh ke jurang setelah berlari mengindari aparat.
Geram dengan tindakan aparat, sekitar pukul 10:30 WIT, warga mengarak jenazah Septinus menuju kantor bupati. Di sana mereka menuntut pertanggung jawaban pelaku. Pertama, denda atau ganti rugi kepada keluarga sebesar Rp. 30 miliar. Kedua, aparat Brimob ditarik keluar dari Manokwari. Ketiga, tanah lokasi bangunan Makobrimob ditarik menjadi hak milik masyarakat adat.
Bupati Manokwari Dominggus Mandacan setuju insiden penembakan diproses secara hukum. Ketua DPRD Yosias Saroy berjanji mendesak penarikan Brimobda Kompi C dari Manokwari. Sedangkan Kapolres Manokwari Bambang Ricky berjanji memproses anggotanya yang terlibat.
Pada bagian lain, Diaz bersama sejumlah pihak menemui Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia di Jalan Latuharhary, Jakarta. Mereka meminta Komnas HAM membentuk tim investigasi kasus itu  agar mengungkap pelakuknya.
“Saya melihat, eskalasi kekerasan terhadap penduduk sipil di tanah Papua kerap terjadi dan banyak memakan korban warga masyarakat tak berdosa. Saya khawatir kekerasan demi kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi dan rakyat menjadi korban jika insiden seperti Manokwari tak diselesaikan dengan tuntas,” tegas Diaz.
 (don/*)

1 komentar:

  1. sangat sesalkan kelakuan aparat di papua

    BalasHapus