WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

3 Nov 2009

Menyoal Kelly Kwalik, Sosok yang Disebut-sebut Aktor Pelaku Penembakan di Freeport

“Film itu Memang Kelly Kwalik, Tapi Sepertinya Sudah Usang”
Masyarakat Papua kembali digegerkan rentetan penembakan misterius di areal penambangan emas milik PT Freeport Indonesia selama 4 bulan terakhir ini. Dimana kasus itu telah memakan enam korban jiwa, dimulai dari masyarakat pemilik hak ulayat, karyawan Freeport hingga petugas keamanan yang bertugas mengamanakan aset nasional tersebut.
Oleh : Hendrik Hay
NAMA Kelly Kwalik kembali muncul setelah sekian tahun tak pernah terdengar, terakhir tahun 1995 nama kelly menggegerkan dunia karena menyandera Tim Peneliti Taman Nasional Lorenz, waktu yang cukup panjang serta melelahkan hidup di hutan belantara Papua.
Sekarang nama Kelly Kwalik kembali muncul karena aksi teror sepanjang pertengahan tahun 2009, sebut saja tanggal 11 Juli 2009 di jalan poros utama perusahan mile 54 Tembagapura terjadi penembakan terhadap satu warga sipil berkebangsaan Australia Mr. Drew Nicholas Grant (38) yang adalah karyawan PT. Freeport Indonesia.
 Tim polda Papua tak tinggal diam pasca penembakan itu, tim dari detasemen Khusus Anti Teror 88 Polda Papua pada tanggal 20 Juli 2009 langsung menangkap 7 warga sipil di kota Timika. Mereka yang ditangkap semua berasal dari suku Amungme yang adalah pemilik hak ulayat.
 Pada tanggal 23 Juli 2009 penangkapan terjadi lagi terhadap warga sipil yang bermukim di jalan baru Distrik Kwamki Baru dan mereka berjumlah 7 orang kesemuanya adalah sukuk Amungme. 25 orang sipil telah ditangkap pihak kepolisian untuk dimintai keterangan terkait peristiwa penembakan di areal PT. Freeport Indonesia.
 Namun dari sekian penyidikan yang dilakukan Tim Polda Papua tidak menunjukkan bukti-bukti kuat akan keterlibatan mereka ataupun TPN/OPM pada penyerangan yang mematikan tersebut. Bahkan dari hasil olah TKP secara transparan Kapolda Papua telah mengumumkan bahwa peristiwa penembahkan warga sipil di areal PT. Freepot Indonesia sejak tanggal 11 Juli 2009 adalah ”tindakan kriminal bersenjata murni” bukan dilakukan oleh TPN/OPM, pimpinan Kelly Kwalik
 Peryataan Kapolda ini rupanya ingin memberitahu pihak-pihak yang berkepentingan di perusahan tersebut bahwa ada pihak lain yang mencoba menebar teror dengan menjadikan TPN/OPM sebagai tameng untuk melegitimasi aksinya.
 Tapi sayang jika ternyatan dua institusi yang berwenang memiliki serta menggunakan senjata api ini saling silang pendapat, bahkan terkesan hanya ingin mengaburkan persoalan yang telah merenggut nyawa.
 Lihat saja Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI A. Y. Nasution, saat diwawancarai wartawan di Swesbel Hotel Jayapura pekan kemarin. Pangdam tanpa ragu memastikan bahwa pelaku teror di Freeport Timika adalah pemimpin TPN/OPM Kelly Kwalik.
“Pelaku teror adalah Kelly Kwalik, dia yang mengeluarkan perintah operasi untuk merusak Freeport, dan kami (TNI-red) akan cari,” tegas Pangdam.
 Sebelumnya Pangdam mengakui bahwa sosok lelaki tua yang muncul pada film pendek yang disaksikan dihadapan para para peserta dialog adalah Kelly Kwalik, sosok lelaki ini justru jauh berbeda dengan kelly kwalik fersi Polda Papua yang juga sempat ditunjukkan beberap waktu lalu.
 Sikap silang pendapat ini, menunjukkan kinerja Polda Papua masih sangat lamban mengungkapkan kasus di Timika, ini sama halnya polda sedang memelihara konflik di Timika secara umum di Papua.  Sampai saat ini pihak Kepolisian masih susah menemukan pelaku penembahkan warga sipil di areal PT. Freeport Indonesia. Polisi juga sulit menemukan siapa otak di balik peristiwa yang mengorbankan 7 warga suku Amungme yang tak bersalah dan tidak berdosa ini.
Semuanya masih misteri SIAPA DIA?
 Pihak Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) yang dikenal selalu menyuarakan ketidakadilan di Papua lewat ketua DPW Indonesia Tengah yakni Dominikus Serabut secara terang-terangan mengakui bahwa sosok lelaki yang ditampilkan lewat video rekaman milik pihak TNI tersebut adalah sang Kelly Kwalik.
 Ada apa sebenarnya? Apakah Kelly Kwalik adalah seorang yang nyata atau Kelly kwalik hanyalah manusia jadi-jadian di belantara Papua.
 Yang justru membingungkan adalah perintah operasi yang dikeluarkan Kelly Kwalik lewat film pendek itu untuk mengacaukan aktifitas penambangan di PT Freeport Indonesia disangkal sebagai video yang sudah kadaluarsa.
 “Itu memang Kelly tapi PO yang dikeluarkan itu sepertinya sudah lama, itu video yang sudah usang tidak benar kalau kelly keluarkan PO,” terang Demus.
 Senada dengan Demus ketua umum DAP, Forkorus Yaboisembut mengatakan, pasca penembakan tanggal 11 Juli 2009 di mile 54 Tembagapura, Kelly Kwalik telah menyurati pemerintah Australia untuk memberi tahu bahwa penembakan warga sipil australia tersebut bukan dilakukan TPN/OPM.
 “Saya dengar bahwa Kelly Kwalik sudah mengirim surat resmi kepada pemerintah Australia untuk memberi tahu bahwa bukan dia ataupun anak buahnya yang melakukan,” jelas Forkorus.
“Apa yang Kelly minta harus jelas,” tambah Direkrtris Yayasan Hak Asasi Manusia dan Kekerasan (YAHAMAK) Yosepha Alomang.
 Alomang justru mempertanyakan penangkapan 7 orang sipil tersebut yang mana tidak ditemukan barang bukti berupa selongsong peluruh kosong, selogsong peluruh aktif dan senjata api.  “Mengapa barang bukti yang di umumkan di temukan di mile 27 dengan setumpukan bahan-makanan dan di luar pemukiman warga sipil tempat di mana 7 warga di tangkap?,” singgung Alomang.
 Pernyataan Pangdam di Media, kata Alomang, jauh berbeda dari yang dilontarkan saat berada dalam ruang Dialog Publik Carut Marut Kasus Freeport yang digelar DPD KNPI Propinsi Papua di Swiisbel Hotel pekan kemarin.
“Ia (pangdam) katakan kalau pelakunya adalah Kelly Kwalik, ini artinya siapa mau tipu siapa?.” tanya Alomang.
 Sejumlah kasus yang terjadi di Papua tidak pernah ada penyelesaian hukum yang pasti namun peluang konflik dimanfaatkan pihak lain dengan konspirasi tertentu dan rakyat Papua selalu dikambing hitamkan dengan ungkapan separatis. Lantas apakah sang jenderal TPN/OPM ini juga mengalami nasib serupa.(***)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar