WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

11 Agt 2009

Bule Ikut Perang



Kemarin, Festival Budaya Lembah Baliem Dibuka
JAYAWIJAYA-Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang merupakan salah satu ajang promosi budaya yang sangat diminati oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara kembali dilaksanakan di Kampung Wosilimo, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Senin (10/8).
Menariknya dalam momen FBLB kali ini, para bule (wisatawan asing) pun tidak hanya datang menontong, tetapi ada beberapa yang nampak terlibat langsung dalam adegan perang atau panah-panahan yang menjadi ciri khas dari festifal budaya ala masyarakat adat Pegunungan Tengah Papua ini.
Kegiatan pesta budaya tahunan ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Surya Yuga yang ditandai dengan pelepasan anak panah ke udara.
Pesta budaya tahunan ini dihadiri ratusan wisatawan mancanegara dan akan dilaksanakan selama 2 hari (10-11/8), kemudian pada Kamis (13/8) diselenggarakan karnaval dan pawai kendaraan hias yang dipusatkan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Staf Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Surya Yuga mengatakan, festival ini merupakan salah satu kegiatan untuk menggerakkan sektor pariwisata di Papua sebagai daerah tujuan wisata wilayah timur yang memiliki potensi budaya dan pariwisata yang menarik.
"Kegiatan pesta budaya ini merupakan salah satu sektor penggerak pariwisata di Papua sebagai daerah tempat wisata di daerah timur Indonesia,"ungkapnya.
Dikatakan, melalui kegiatan budaya ini diharapkannya potensi obyek wisata dan potensi seni budaya Jayawijaya dapat dilestarikan, dikembangkan dan dipromosikan serta dapat dijadikan sarana berkumpulnya seluruh masyarakat adat, selain juga sebagai sarana promosi pariwisata yang sangat efektif agar lebih memperkenalkan potensi seni budaya di Jayawijaya.
Sementara itu, Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, M.Par mengungkapkan, tujuan utama penyelenggaraan festival ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat lokal guna memperkaya khasanah budaya bangsa dan juga sebagai ajang promosi potensi budaya guna menarik wisatawan berkunjung ke Lembah Baliem sebagai salah satu obyek tujuan wisata nasional.
Menurutnya, sektor pariwisata akan tumbuh dan berkembang bila ada rasa nyaman, aman serta keramahtamahan masyarakat, sebab itu semua pihak harus bersama-sama menciptakan kedamaian di Jayawijaya dan Pegunungan Tengah Papua umumnya. "Karena daerah kita merupakan salah satu tujuan wisata sehingga menjadi kewajiban bersama semua elemen masyarakat untuk menciptakan kedamaian di daerah tercinta kita ini agar wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman,"jelasnya.
Sekadar diketahui, kegiatan yang dilaksanakan dalam FBLB 2009 tersebut meliputi berbagai atraksi diantaranya atraksi perang-perangan, tarian tradisional, panahan, lempar sege, tiup pikon, puradan, sikoko, bakar batu, karapan babi, lomba anyam-anyaman dan pameran hasil kerajinan maupun hasil bumi masyarakat. Untuk kegiatan panahan dan lempar sege khusus diikuti para wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) untuk kali ini ternyata mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Hal ini terlihat dari disediakannya dana sebesar Rp 800 juta dari APBN.
Demikian diungkapkan Staf Ahli Mentri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yuga kepada wartawan di sela-sela pembukaan kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem di Kampung Wosilimo, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya kemarin.
Dikatakan, festival ini merupakan sebagai salah satu upaya pelestarian budaya tradisional khususnya masyarakat di Papua terlebih masyarakat Lembah Baliem Jayawijaya. Awalnya festival ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mempersatukan suku-suku yang sering berperang sebab perang suku lazim terjadi. Oleh karena itu lewat Bupati Jayawijaya terdahulu yaitu JB Wenas maka diadakan festival ini.
"Dengan alokasi Rp 800 juta maka diharapkan bisa semakin bagus, semakin terjadwal dan persiapannya baik sehingga nantinya untuk perbaikan ekonomi masyarakat sendiri," ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakan, festival ini sudah layak untuk even nasional bahkan internasional, sebab ini suatu keunikan yang tidak dimiliki daerah lain baik itu di Papua maupun di propinsi lain. Even internasional ini, menurutnya adalah menawarkan suatu keunikan dan keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Dengan demikian, pelestarian budaya yang berasal dari masyarakat (grass road) perlu mendapat perhatian khusus, sehingga pemerintah sudah menunjukkan komitmennya melalui pemberian dana melalui APBN dimana dana ini dari tahun ke tahun mengalami kenaikan bahkan tahun depan dananya menjadi Rp 1,4 milyar.
"Dengan melihat dari animo wisatawan asing diharapkan panitia penyelenggara bisa lebih konsisten terhadap jadwal bahkan memperhatikan akomodasi dan aksesbilitas, sehingga FBLB ini bisa lebih terkenal di dunia internasional," tandasnya. (nal/fud)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar