WELCOME TO WEB FGPBP

Mungkin anda berfikir, akulah manusia yang paling tidak beruntung dan bodoh, karena kecintaan ku terhadap negeri ku lebih besar dari yang kau dapat dari ku...tapi satu hal yang kau tahu, bahwa aku berjalan bersama suatu kebenaran yang dunia telah menolaknya...sebab yang ku tahu...kebenar itu akan memerdekakan aku.

24 Agu 2009

The Lani SIngers at the Port Eliot Festival in Cornwall 2009


By WPNews
Aug 24, 2009, 08:12

Email this article
Printer friendly page
The Lani Singers perform West Papua Traditional Song at the Port Eliot Festival Cornwall 2009

The first time the Lani singers invited by Port Eliot Festival in this years.

We will perform our West Papua Freedom Song today but in West Papua we are not allow to perform our West Papua Freedom Song.

If we do this in West Papua we will be kill or in Jail because all the song about our severing, killing ripe, torture and imprisonment.

The Ninalik Ndawi si freedom song all the song about our identity, our culture and our nature.

Today we could standing in front of you freely to play our music without any fear. In West Papua Indonesia Military and Police will arrested us straight the way.







Photo News : Benny Wenda Give talk Amnesty International Brighton.

By WPNews
Aug 24, 2009, 04:59

Email this article
Printer friendly page
Today i brought with me voice of West Papuan peoples. In West Papua their voice you can hear them but today you will hear them.

In West Papua my Peoples are no freedom to demonstration in the Public because Military and Police will stop you any time event kill you. 2004 Yusak and Pilep pray meeting in Abepura peacefully rise Morning Star Flag now serve 10 and 15 years.

Last year Buchtar Tabuni and Sebby Sambom just use the Word REFERENDUM and Self Determination supporting IPWP launch in London. now Bucthar Tabuni serve tree years in Prison. so We can not say the word freedom or Referendum becouse this word are not allow in West Papua.

Today hear their voice crying for freedom, We need you to help we need Justice, and freedom. My Peoples are slave by Indonesia Military and Police.

In West Papua political prisioner

Please be our Voice.


Photo News : Benny Wenda Give talk Amnesty International Brighton.

By WPNews
Aug 24, 2009, 04:59

Email this article
Printer friendly page
Today i brought with me voice of West Papuan peoples. In West Papua their voice you can hear them but today you will hear them.

In West Papua my Peoples are no freedom to demonstration in the Public because Military and Police will stop you any time event kill you. 2004 Yusak and Pilep pray meeting in Abepura peacefully rise Morning Star Flag now serve 10 and 15 years.

Last year Buchtar Tabuni and Sebby Sambom just use the Word REFERENDUM and Self Determination supporting IPWP launch in London. now Bucthar Tabuni serve tree years in Prison. so We can not say the word freedom or Referendum becouse this word are not allow in West Papua.

Today hear their voice crying for freedom, We need you to help we need Justice, and freedom. My Peoples are slave by Indonesia Military and Police.

In West Papua political prisioner

Please be our Voice.

21 Agu 2009

Papua Merdeka Harga Mati

Kamis, 20 Agustus 2009 | 14:44 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ichwan Susanto

ARSO, KOMPAS.com — Sarasehan pemerintah pusat dengan Dewan Adat dan masyarakat Keerom Papua, Kamis (20/8) di Arso, berlangsung penuh semarak. Para peserta melontarkan semua unek-uneknya terkait berbagai permasalahan di Papua.

Teriakan-teriakan Papua Merdeka beberapa kali terdengar bersahut antara peserta dan masyarakat. Mereka berpendapat tuntutan orang Papua hanya satu yaitu "M" atau Merdeka.

Sarasehan dipimpin Dirjen Kesbangpol Departemen Dalam Negeri Ahmad Tanri Bali, Ketua Dewan Adat Keerom Hubertus Kwambre, Sekjen Aliansi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Se-Indonesia, dan mediator Pastor John Jonga.

Peserta ditaksir berjumlah 100-an warga dan bertempat di rumah adat Keerom di Arso. Dalam forum itu, Presiden Komite Nasional Papua Barat Terianus meminta jaminan dari dirjen bahwa setiap perkataan/unek-unek peserta dan masyarakat dalam sarasehan itu tidak berujung pada masalah hukum serta intimidasi dari aparat dan intelijen.

Menanggapi permintaan ini, dirjen mengatakan akan berkoordinasi dengan Kapolda Papua dan Pangdam Cenderawasih. Ia pun menjamin setiap aspirasi dan masukan akan disampaikan secara utuh kepada Menteri. "Semua masukan baik lisan atau tertulis atau video akan saya laporkan secara utuh tanpa dikurangi," ujarnya.

Terianus dan belasan peserta yang berbicara berpendapat bahwa masyarakat Papua dianaktirikan Indonesia. Setiap bersikap, mereka dituding masuk gerakan separatis. "Karena itu lebih baik kami merdeka saja," ujar Terianus Yoku.
Sumber Kompas.
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/08/20/1444274/papua.merdeka.harga.mati

Buru Sekjen KNPB, 3 Bintang Kejora Diamankan


Termasuk Dokumen Rencana Penyerangan Gudang TNI/Polri
JAYAPURA-Genderang perburuan terhadap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Demus Wenda yang mengaku bertanggungjawab atas berbagai pengibaran bendera Bintang Kejora mulai dilakukan secara serius oleh aparat kepolisian .
Terkait hal ini, aparat kepolisian gabungan Polresta Jayapura dan Polsekta Abepura, Jumat (21/8) kemarin, melakukan penggerebekan terhadap dua lokasi yang selama ini diduga sebagai tempat persembunyian Demus Wenda.
Dua lokasi itu yakni di rumah warga yang terletak di belakang Kompleks BTN Puskopad Atas dan di perbukitan Tanah Hitam, kelurahan Awiyo, Distrik Abepura, Kota Jayapura.
Dalam operasi yang dipimpin Kapolsekta Abepura AKP Dominggus Rumaropen dan Kasat Reskrim Polresta Jayapura AKP Y Takamully SH, MH itu, aparat menemukan 3 bendera Bintang Kejora ukuran 60 cm x 115 cm, puluhan butir amunisi berbagai kaliber, puluhan senjata tajam, dan sejumlah dokumen tentang TPN/OPM, termasuk rencana-rencana penyerangan gudang Dolog dan gudang TNI/Polri.
Dari pantauan Cenderawasih Pos yang ikut langsung dalam operasi itu, setelah dilakukan apel pasukan di Mapolsekta Abepura yang dipimpin Kapolsekta Abepura, pukul 11.00 WIT, pasukan sebanyak 2 pleton yang diback up 1 regu anggota Brimobda Sulsel penugasan, langsung bergerak ke salah satu rumah penduduk di belakang BTN Puskopad, yaitu milik seorang warga bernama Jovi Wenda.
Namun, setelah minta izin ke pemilik rumah untuk dilakukan penggeledahan, ternyata Demus Wenda tidak berada di tempat itu. Pemilik rumah dan beberapa warga yang tinggal di tempat itu mengaku, Demus Wenda tidak pernah berada di rumah tersebut.
Tidak percaya begitu saja dengan keterangan mereka, Kapolsekta beralih ke rumah sebelahnya yang masih satu keluarga.
Dengan berpura-pura ingin melihat-lihat dapur rumah, Kapolsekta mendapati sejumlah busur, anak panah, dan jubi yang diikat dan ditutup dengan karung. Saat itu juga, Kapolsekta perintahkan anggota untuk mengamankan barang bukti tersebut.
Tidak itu saja, anggota juga menemukan sejumlah dokumen kartu pengenal anggota West Papua Interesr Association (WPIA) lengkap dengan fotonya serta lembaran bekas stempel pasukan TPN/OPM yang dibagi dalam komando-komando sektor.
Dari situ, pasukan bergerak ke salah satu rumah warga daerah perbukitan Tanah Hitam yang diduga sebagai tempat persembunyian Demus Wenda.
Setelah minta izin pemilik rumah bernama Dani Kogoya untuk dilakukan penggeledahan di kamar rumah tersebut, anggota menemukan 3 bendera Bintang Kejora, 49 butir peluru kaliber 5,56 mm, 51 butir peluru kaliber 7,62 mm, 4 parang, 3 kapak serta dokumen-dokumen tentang struktur organisasi TPN/OPM, termasuk buku-buku rencana aksi penyerangan.
Di rumah ini, aparat juga mengamankan pemilik rumah Dani Kogoya dan tujuh warga yang berada di rumah tersebut, masing-masing Tadius Kogoya (21), Illani Jihan (30), Mekki Tabuni (24), Diswenda L Leoraya (22), Pendita Rahopai (35), Rerema Jihara (32) dan Elinius Kogoya (20). Mereka semua masih status saksi dan masih dimintai keterangan.
Kapolresta Jayapura AKBP Robert Djeonso, SH mengungkapkan, operasi yang dilakukan ini sebagai wujud keseriusannya untuk memburu dan menangkap para pelaku serta penanggungjawab pengibar bendera Bintang Kejora yang selama ini terjadi di wilayah Kota Jayapura.
"Berdasarkan hasil informasi-informasi yang dihimpun dari sejumlah orang, dua lokasi tersebut sering dijadikan tempat persinggahan saudara Demus Wenda. Makanya untuk menindaklanjuti informasi itu, kita datangi tempat tersebut," ujar Kapolresta, kemarin.
Kapolresta mengungkapkan, meskipun target yang dicari belum ditemukan, berdasarkan bukti-bukti yang berhasil diamankan petugas, diduga kuat dua lokasi itu selama ini menjadi tempat pengendali berbagai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora, termasuk penyerangan Mapolsekta Abepura.
Sebab, berdasarkan pengamatan terhadap tiga lembar bendera Bintang Kejora tersebut, ternyata ada kemiripan terhadap bendera Bintang Kejora yang berkibar di Abe Pantai, belakang Kampus Uncen Waena dan Youtefa Grand Perumnas IV.
"Yang jelas penemuan sejumlah barang bukti atribut perjuangan Papua Merdeka dan organisasi TPN/OPM itu masih akan kita kembangkan. Makanya sejumlah saksi masih kita periksa untuk mengetahui peranan mereka termasuk kepemilikan sejumlah barang bukti tersebut," tandasnya. (mud/cr-157/fud)

19 Agu 2009

KNPB Klaim Bertanggungjawab


Atas Pengibaran Bintang Kejora
JAYAPURA-Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengaku bertanggungjawab atas pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) di Abe Pantai dan belakang Gedung FISIP Uncen Kampus Waena jelang peringatan HUT RI ke-64, Senin (17/8) lalu.
Bahkan, berbagai insiden penembakan yang terjadi di area PT Freeport, Timika dan Serui beberapa waktu lalu, juga diklaim merupakan bagian dari aksinya sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah RI maupun pemerintah daerah.
Sekjen KNPB Demus Wenda mengungkapkan, perlawanan akan terus dilakukan kepada pemerintah RI dan Pemda, selama aspirasinya yang menuntut digelarnya dialog dengan para pemegang kekuasaan tentang penentuan nasib sendiri (referendum) tidak direspon.
"Yang jelas selama aspirasi kami tidak direspon atau dijawab oleh pemerintah, maka perlawanan akan terus dilakukan. Perlawanan rakyat Papua ini merupakan cara terbaik setelah upaya-upaya melalui aksi demo dan diplomasi tidak ada hasilnya," ujar Demus Wenda kepada Cenderawasih Pos, selasa (18/8).
Demus yang juga mengklaim sebagai juru bicara TPN/OPM ini, sengaja setiap melakukan aksi pengibaran bendera, pihaknya tidak selalu meninggalkan tempat. Hal ini dilakukan guna menghindari berbagai tindakan kekerasan yang akan dilakukan aparat keamanan dalam setiap mengatasi persoalan.
Sebenarnya, setiap melakukan aksi perlawanan, pihaknya akan berusaha melakukan dengan cara-cara ksatria dan gentlemen atau tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja, pengalaman yang ada selama ini, aparat keamanan setiap menghadapi aksinya itu, selalu menggunakan cara-cara kekerasan.
"Jadi perlawanan yang kami lakukan ini sekaligus upaya menggugat pemerintah yang dinilai gagal melindungi rakyat Papua. Bagi kami rakyat Papua kehidupannya akan berubah lebih baik jika diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri," ungkapnya.
Dikatakan, meski Pemerintah RI telah memberikan Otsus kepada Pemprov Papua, namun kenyataanya belum memberikan perubahan yang berarti bagi rakyat Papua. Justru yang terjadi selama ini, rakyat Papua hidup sengsara, tertindas dan masih mendapatkan perlakuan ketidakadilan di atas gelimpangan kekayaannya di tanahnya sendiri.
Karena itu, dirinya siap menghentikan berbagai perlawanan yang dilakukannya, selama Pemerintah RI dan Pemda memberikan ruang bagi rakyat Papua untuk dialog guna membicarakan berbagai persoalan-persoalan yang ada di tanah ini. Selama ruang dialog ini belum ada, maka sampai kapanpun perlawanan akan terus dilakukan.
Disinggung berbagai insiden penembakan di area Freepot Timika, Demus Wenda mengatakan, itu semua dilakukan atas perintah langsung Kwelik Kwalik. Perlawanan yang dilakukan itu, sebagai wujud protes dan menggugat atas ketidakadilan yang diterima rakyat selaku pemilik hak ulayat.
"Tanah dan kekayaan alam ini dikeruk oleh pihak lain, sementara rakyat sebagai pemiliknya justru hidup dalam suatu kondisi ketidakpastian dan penderitaan. Karena itu, untuk melawan terhadap berbagai rasa ketidakadilan yang terjadi di tanah ini, komponen rakyat Papua yang diback up kekuatan TPN/OPM akan terus melakukan perlawanan dalam bentuk apapun," paparnya.
Apa tidak takut dikejar dan ditangkap aparat? Dengan suara lantang, Demus Wenda yang suka berpindah-pindah markas ini, mengaku tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.
Baginya, selama perlawanan dan perjuangan yang dilakukan ini demi untuk membela rakyat Papua yang sedang tertindas, maka berbagai risiko yang akan terjadi siap dihadapi. (mud/fud)

11 Agu 2009

Bule Ikut Perang



Kemarin, Festival Budaya Lembah Baliem Dibuka
JAYAWIJAYA-Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang merupakan salah satu ajang promosi budaya yang sangat diminati oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara kembali dilaksanakan di Kampung Wosilimo, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Senin (10/8).
Menariknya dalam momen FBLB kali ini, para bule (wisatawan asing) pun tidak hanya datang menontong, tetapi ada beberapa yang nampak terlibat langsung dalam adegan perang atau panah-panahan yang menjadi ciri khas dari festifal budaya ala masyarakat adat Pegunungan Tengah Papua ini.
Kegiatan pesta budaya tahunan ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Surya Yuga yang ditandai dengan pelepasan anak panah ke udara.
Pesta budaya tahunan ini dihadiri ratusan wisatawan mancanegara dan akan dilaksanakan selama 2 hari (10-11/8), kemudian pada Kamis (13/8) diselenggarakan karnaval dan pawai kendaraan hias yang dipusatkan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Staf Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Surya Yuga mengatakan, festival ini merupakan salah satu kegiatan untuk menggerakkan sektor pariwisata di Papua sebagai daerah tujuan wisata wilayah timur yang memiliki potensi budaya dan pariwisata yang menarik.
"Kegiatan pesta budaya ini merupakan salah satu sektor penggerak pariwisata di Papua sebagai daerah tempat wisata di daerah timur Indonesia,"ungkapnya.
Dikatakan, melalui kegiatan budaya ini diharapkannya potensi obyek wisata dan potensi seni budaya Jayawijaya dapat dilestarikan, dikembangkan dan dipromosikan serta dapat dijadikan sarana berkumpulnya seluruh masyarakat adat, selain juga sebagai sarana promosi pariwisata yang sangat efektif agar lebih memperkenalkan potensi seni budaya di Jayawijaya.
Sementara itu, Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, M.Par mengungkapkan, tujuan utama penyelenggaraan festival ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat lokal guna memperkaya khasanah budaya bangsa dan juga sebagai ajang promosi potensi budaya guna menarik wisatawan berkunjung ke Lembah Baliem sebagai salah satu obyek tujuan wisata nasional.
Menurutnya, sektor pariwisata akan tumbuh dan berkembang bila ada rasa nyaman, aman serta keramahtamahan masyarakat, sebab itu semua pihak harus bersama-sama menciptakan kedamaian di Jayawijaya dan Pegunungan Tengah Papua umumnya. "Karena daerah kita merupakan salah satu tujuan wisata sehingga menjadi kewajiban bersama semua elemen masyarakat untuk menciptakan kedamaian di daerah tercinta kita ini agar wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman,"jelasnya.
Sekadar diketahui, kegiatan yang dilaksanakan dalam FBLB 2009 tersebut meliputi berbagai atraksi diantaranya atraksi perang-perangan, tarian tradisional, panahan, lempar sege, tiup pikon, puradan, sikoko, bakar batu, karapan babi, lomba anyam-anyaman dan pameran hasil kerajinan maupun hasil bumi masyarakat. Untuk kegiatan panahan dan lempar sege khusus diikuti para wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) untuk kali ini ternyata mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Hal ini terlihat dari disediakannya dana sebesar Rp 800 juta dari APBN.
Demikian diungkapkan Staf Ahli Mentri Bidang Pranata Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Yuga kepada wartawan di sela-sela pembukaan kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem di Kampung Wosilimo, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya kemarin.
Dikatakan, festival ini merupakan sebagai salah satu upaya pelestarian budaya tradisional khususnya masyarakat di Papua terlebih masyarakat Lembah Baliem Jayawijaya. Awalnya festival ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mempersatukan suku-suku yang sering berperang sebab perang suku lazim terjadi. Oleh karena itu lewat Bupati Jayawijaya terdahulu yaitu JB Wenas maka diadakan festival ini.
"Dengan alokasi Rp 800 juta maka diharapkan bisa semakin bagus, semakin terjadwal dan persiapannya baik sehingga nantinya untuk perbaikan ekonomi masyarakat sendiri," ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakan, festival ini sudah layak untuk even nasional bahkan internasional, sebab ini suatu keunikan yang tidak dimiliki daerah lain baik itu di Papua maupun di propinsi lain. Even internasional ini, menurutnya adalah menawarkan suatu keunikan dan keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Dengan demikian, pelestarian budaya yang berasal dari masyarakat (grass road) perlu mendapat perhatian khusus, sehingga pemerintah sudah menunjukkan komitmennya melalui pemberian dana melalui APBN dimana dana ini dari tahun ke tahun mengalami kenaikan bahkan tahun depan dananya menjadi Rp 1,4 milyar.
"Dengan melihat dari animo wisatawan asing diharapkan panitia penyelenggara bisa lebih konsisten terhadap jadwal bahkan memperhatikan akomodasi dan aksesbilitas, sehingga FBLB ini bisa lebih terkenal di dunia internasional," tandasnya. (nal/fud)